NIKAH MUT'AH



KATA PENGANTAR
ِبِسْمِ اللهِ الرَّحمَْنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالِميِْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَاْلمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍوَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ.
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Swt, karena atas berkat rahmat, taufik, hidayah dan bimbingan-Nya semata sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini. Shalawat serta salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad Saw yang telah menunjukkan kepada jalan keselamatan di dunia dan akhirat, beserta seluruh keluarga Beliau, sahabat-sahabat Beliau dan mereka yang mengikuti Beliau hingga akhir zaman.
Berkat taufiq, hidayah, dan inayah Allah swt akhirnya kami dapat menyelesaikan penulisan makalah dengan judul: “Nikah  Muth’ah” dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah …………….. yang di bimbing oleh         ……..
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah  ini masih banyak terdapat kekurangan, namun  penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

                      Banjarmasin,   Juni  2013
                                                                                                                           
DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL ......................................................................................         
KATA PENGANTAR.....................................................................................         
DAFTAR ISI....................................................................................................         
BAB   I    :    PENDAHULUAN.....................................................................         
BAB   II :     PEMBAHASAN
A.  Pengertian  Nikah Muth’ah...................................................         
B.   Sejarah  Nikah Muth’ah........................................................         
C.   Dalil yang Memperbolehkan Nikah Muth’ah........................         
D. Dalil yang Mengharamkan Nikah Muth’ah...........................
E.   Ketentuan Anak yang diLahirkan dalam Nikah Muth’ah.....
BAB V    :    PENUTUP
A.  Kesimpulan............................................................................         
B.   Hikmah..................................................................................         
DAFTAR PUSTAKA

BAB  I
PENDAHULUAN

Pernikahan merupakan sunnatullah pada alam ini, tidak ada yang keluar dari garisnya, manusia, hewan maupun tumbuhan.
Allah SWT menciptakan manusia seperti ciptaan yang lainnya, tidak membiarkan nalurinya berbuat sekehendaknya, atau membiarkan hubungan antara laki-laki dan perempuan kacau tidak beraturan. Tetapi Allah meletakkan rambu-rambu dan aturan sebagaimana telah diterangkan oleh utusanNya, yaitu nabi Muhammad SAW.
 Oleh karenanya, salah satu maqashid syari’ah (pokok dasar syariah), yaitu menjaga keturunan. Islam menganjurkan umat Islam untuk menikah dan diharamkan membujang. Islam melarang mendekati zina dan menutup sarana-sarana yang menjurus kepada perbuatan kotor tersebut. Islam juga mengharamkan perzinaan yang berbalutkan dengan sampul pernikahan, atau pelacuran menggunakan baju kehormatan.
Di antara pernikahan yang diharamkan oleh Islam, ialah seperti; Nikah tahlil, yaitu seseorang menikah dengan seorang wanita yang telah dithalak tiga oleh suaminya, dengan tujuan agar suami pertama dapat rujuk dengannya. Nikah syighar, yaitu seseorang menikahkan putrinya dengan seseorang, dengan syarat orang yang dinikahkan tersebut juga menikahkan putrinya, dan tidak ada mahar atas keduanya. Nikah muhrim, dan seterusnya.
Juga terdapat pernikahan yang diharamkan, yang dikenal dengan nikah kontrak (kawin kontrak). Nikah yang biasa disebut nikah mut’ah ini merupakan salah satu pernikahan yang diharamkan Islam yang walaupun pada awalnya juga pernah di halalkan oleh Rasululullah SAW. Uniknya, nikah mut’ah ini bahkan dilanggengkan dan dilestarikan oleh agama Syi`ah dengan mengatasnamakan agama. Didalam makalah ini akan dibahas mengenai hukum nikah mut’ah.
BAB  II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Nikah Mut’ah
Istilah nikah mut`ãh berasal dari bahasa Arab, perkataan nikah mut`ãh dalam kajian fiqh Islam merupakan penggabungan dua buah kata, yakni kata "nikah" dan kata " mut`ãh". Adapun kata nikah berasal dari kata نَكَحَ – يُنَكِحُ – نِكَحَا yang artinya kawin. Kata نكاح sinonim dengan kata زواج yang juga berarti kawin. Dalam Bahasa Indonesia nikah diartikan sebagai perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami istri (dengan resmi).
Secara bahasa pengertian nikah disebutkan dalam buku al-Mabsut sebagai berikut:
النِّكَاحِ فِىْ الْلِغَةِ عَبِارَةِ عَنِ الْوَطِءْ       
Artinya: Nikah menurut bahasa adalah menerangkan tentang wati’ (setubuh)
Pengertian nikah ditinjau dari segi lafaz, para ulama berbeda pendapat, sebagaimana yang diungkapkan di dalam kitab al-Fiqh ‘Ala al-Mathib al-Arba’ah sebagai berikut:
وَ قِدَ اِخْتِلَفٍ اْلعُلَمَا فِيْهَ عَلَى ثَلَاثَ أِقْوَالِ: أحَدَهَا أنَهَ خَقِيْقَةُ فِى الْوَطِءَ مَجَازَ فِىْ اْلعَقِدِ وَهَذَا هُوَ رَأيِ الْحَنِيْفَةِ ثَانِيَهَا: اِنِّهُ حَقِيْقَةِ فِىْ اْلعَقَدِ مَجَازِ فِىْ الوَطِءْ وَذَلِكَ هُوَ اْلأَرَجِحُ عِنْدَ الشَّافِعِيَةِ وَاْلمَالِكِيَةِ ثَالَثَهَا: أِنَّهُ مُشْتَرِكُ لَفْظِ بَيْنَ اْلعَقَدِ وَاْلوَطِءْ
Artinya: Ulama berbeda pendapat (dalam mengartikan lafaz nikah) atas tiga pendapat; pertama; itu hakikat pada wati’, majaz pada aqad inilah pendapat Hanafiyah, kedua: bahwa nikah itu hakikat pada aqad, majaz dan wati’ inilah yang paling rajih menurut Syafi’iyah dan Malikiyah, ketiga: bahwa nikah itu adalah lafaz yang musytarak antara aqad dan wati’.
Sementara itu dalam mengartikan makna nikah secara istilah (terminologi) disebutkan sebagai berikut:
النِّكَاحُ يُنَقِدُ بِالْإِيْجَابَ وَاْلقَبُوْلِ بِلَفْظَيْنِ يَعَبِرَ بِهُمَا عَنِ اْلمَاضِىْ
Artinya: Nikah terikat dengan Ijab dan Qabul dengan dua lafaz yang dipakaikan untuk keduanya dengan menggunakan bentuk kata untuk masa lalu.
Dalam Kitab yang lain defenisi nikah secara etimologi adalah berkumpul dan bersetubuh ( الضَمِ وَالْجَمَعِ ) sedangkan secara terminologi adalah sebagai berikut:
عِبَارَةِ عَنِ اْلعَقَدِ اْلمَشْهُوْرَ اْلمُسْتَمَلَ عَلَى اْلارُكُانْ وَالشَّرَوطُ وَيَطْلُقَ عَلَى اْلعَقَدْ وَعَلَى اْلوَطِءْ
Artinya: Suatu ketentuan atau keterangan tentang aqad yang masyhur yang di dalamnya terkandung beberapa rukun dan syarat nikah, untuk dapat membedakan antara aqad dan wati’ secara etimologi.
As-Samarqandi di dalam kitabnya Tufah al-Fuqaha’ menjelaskan pengertian nikah ini dengan redaksi yang cukup berbeda sebagai berikut:
وَأَمَا فِيْ الْشَرَعِ فِعِبَارَةِ عَنِ وُجُوْدِ رُكُنُ اْلعَقَدِ مَعَ شَرَوْطِهِ
Artinya: Adapun menurut syara’ yaitu suatu ungkapan tentang adanya rukun akad nikah dan syarat-syaratnya.
 Sedangkan kata mut’ah berasal dari kata " مَمَتَعَ, يُمَتِعُ, مُتْعَةَ" yang memiliki makna kenikmatan. Dalam kamus Lisan al-‘Arab, Ibnu Manzur mengatakan “mut’ah adalah bersenang-senang dengan perempuan tetapi kamu tidak mengingininya kekal bersamamu dan kenikmatan kawin di Mekah”.
Adapun makna nikah mut`ãh itu sendiri adalah pernikahan yang dilakukan antara laki-laki dan wanita dengan akad dan jangka waktu tertentu. Dikatakan oleh Hamdani nikah mut`ãh juga dinamakan nikah muaqqat, “artinya nikah untuk waktu tertentu atau nikah munqathi (nikah terputus), yaitu seorang laki-laki menikahi perempuan untuk beberapa hari, seminggu atau sebulan”.
Dari defenisi tersebut di atas dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan nikah mut`ãh adalah pernikahan yang dilakukan oleh seorang laki-laki dan wanita dengan jangka waktu pernikahan yang ditentukan serta dilakukan dengan menggunakan akad tertentu pula. Jika masanya telah selesai, maka dengan sendirinya mereka berpisah tanpa kata thalak dan tanpa warisan.
Menurut imam-imam madzhab di Indonesia di dalam kitab mereka, nikah mut’ah adalah pernikahan dengan batasan waktu baik waktunya sudah diketahui atau tidak, kurang lebih lamanya waktu adalah sampai empat puluh lima hari, kemudian nikah itu naik dengan mengganti batas waktu tersebut dengan batasan satu kali haidh atau dua kali haidh pada wanita yang haidh. Selama empat bulan sepuluh hari pada wanita yang ditinggal mati oleh suaminya dan hukum nikah tersebut bahwasanya tidak ditetapkan mahar tanpa syarat baginya, dan tidak ditetapkan nafkah baginya, dan tidak ada waris-mewaris, tidak ada ‘iddah kecuali meminta lepas menurut yang ia ingat dan tidak ditetapkan nasab.
Dari definisi tersebut bahwasanya perkawinan yang seperti ini terjadi kontradiksi terhadap arti nikah sesungguhnya. Bahwa nikah mut’ah itu adalah suatu ikatan yang kuat dan perjanjian yang teguh yang ditegakkan di atas landasan niat untuk bergaul antara suami dan istri dengan abadi supaya memetik buah kejiwaan yang telah digariskan Allah dalam al-Qur’an yaitu ketenteraman, kecintaan dan kasih sayang. Sedangkan tujuan yang bersifat duniawi adalah demi berkembangnya keturunan dan kelangsungan hidup manusia. . 
B.     Sejarah Nikah Mut’ah
Nikah mut’ah pernah diperbolehkan oleh Rasulullah SAW sebelum stabilitasnya syari’at Islam, yaitu diperbolehkannya pada waktu bepergian dan peperangan, akan tetapi kemudian diharamkan. Rahasia diperbolehkan nikah mut’ah waktu itu adalah karena masyarakat Islam pada waktu itu masih dalam transisi (masa peralihan dari Jahiliyah kepada Islam), sedang perzinahan pada masa Jahiliyah merupakan suatu hal yang biasa. Maka setelah Islam datang dan menyeru pada pengikutnya untuk pergi berperang. Karena jauhnya mereka dari istri mereka adalah suatu penderitaan yang berat. Sebagian mereka ada yang kuat imannya dan ada pula yang sebagian tidak kuat imannya. Bagi yang lemah imannya akan mudah untuk berbuat zina yang merupakan sebagai perbuatan yang keji dan terlarang. Bagi yang kuat imannya berkeinginan untuk mengkebiri dan mengimpotenkan kemaluannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud:

عَنِ ْبنُ مَسْعُوْدَ قَاَل : كَناَ نَغَزَوَا مَعَ رَسُوْلَ اللهِ صا. م.  وَلِيْسَ مَعَنَا نِسَاءِ فَقَلَنَا : أَلْا نَسِتَخِصِى ؟ فَنَهَا نَا رَسُوْلَ اللهِ صا.م. عَنِ ذَالِكْ. وَرُخْصَ لِنَا اَنَ نِنكَحُ اْلمَرْ أَةُ الْثُوَبُ إِلَى أَجَلَ.
Artinya: ”Dari Mas’ud berkata: waktu kami sedang perang bersama Rasulullah SAW dan tidak bersama kami wanita, maka kami berkata: bolehkah kami mengkebiri (kemaluan kami). Maka Rasulullah SAW melarang kami melakukan itu. Dan Rasulullah memberikan keringanan kepada kami untuk menikahi perempuan dengan mahar baju sampai satu waktu”.

Tetapi rukhshah yang diberikan oleh nabi kepada para sahabat hanya selama tiga hari setelah itu beliau melarangnya, seperti sabdanya:

وَعَنِ سَلَمَةْ بِنْ اَلأَ كْوَعْ قَاَل : رَخِصُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَمَ عَامَ أَوْطَاسَ فِى اْلمُطْعَةِ, ثَلَاثَهِ أَيَامَ, ثَم نِهَى عَنْهَا ( رواه مسلم )
Artinya: ”Dari Salamah bin Akwa’ berkata: Rasulullah SAW memberikan keringanan nikah mut’ah pada tahun authas (pernikahan kota Makah) selama 3 hari kemudian beliau melarangnya.” (HR. Muslim)

Dari hadits Salamah ini memberikan keterangan bahwasanya Rasulullah SAW pernah memperbolehkan nikah mut’ah kemudian melarangnya dan menasakh rukhshah tersebut. Menurut Nawawi dalam perkataannya bahwasanya pelarangannya dan kebolehannya terjadi dua kali, kebolehannya itu sebelum perang Khaibar kemudian diharamkannya dalam perang Khaibar kemudian dibolehkan lagi pada tahun penaklukan Mekah (tahun Authas), setelah itu nikah mut’ah diharamkan selama-lamanya, sehingga tehapuslah rukhshah itu selama-lamanya, seperti dalam hadits Rasulullah SAW:

وَعَنِ رَبِيْع بِنْ سَبِورَةَ, عَنْ أَبِيْهِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ, أَنْ رَسُوْلَ اللهِ صا.م. قَالَ: إَتِىْ كِنَتَ أُذِنَتَ لَكُمْ اِلَّإسَتِمَنَاعَ مِنْ النِسَاءِ, وَإِنَّ اللهَ قَدَ حَرَمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ (أخرجه مسلم وأبو داود والنسائ وأحمد وابن حبان )

Artinya: ”Dari Rabi’ bin Saburah dari ayahnya ra. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya aku telah memberikan izin kepadamu untuk meminta mut’ah dari wanita, dan sesungguhnya Allah SWT telah mengharamkan itu sampai hari kiamat”. (HR Muslim, Abu Daud, Nasa’i, Ahmad dan Ibn Majah)

Imam Nawawi dalam syarakh-nya pada kitab Shahih Muslim dari al-Qadli ‘Iyad mengatakan bahwa, hadits-hadits tentang muth’ah diriwayatkan oleh segolongan sahabat dan tidak ada dari hadits-hadits itu semua yang terjadi di rumah. Ibnu Umar menyebutkan dalam hadits yang diriwayatkannya bahwa muth’ah adalah keringanan (rukhshoh) pada permulaan islam bagi orang-orang yang sangat membutuhkan seperti halnya larangan terhadap bangkai dan lainnya.
Sedangkan al-Syaikh Kamal al-Din Ibn al-Humam al-Hanafi dalam kitabnya menyebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah memperbolehkan muth’ah ketika dalam rumah dan negaranya, melainkan Rasulullah memperbolehkannya pada waktu-waktu mendesak (dhorurot), sampai kemudian Rasulullah mengharamkannya pada haji wada’ dan itu merupakan pengharaman selama-lamanya. Pendapat ini tidak ada perbedaan di kalangan ulama’ dan ulama’-ulama’ Mesir kecuali golongan Syi’ah.
Di dalam beberapa riwayat yang sah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, jelas sekali gambaran nikah mut’ah yang dulu pernah dilakukan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Gambaran tersebut dapat dirinci sebagai berikut:
1.      Dilakukan pada saat mengadakan safar (perjalanan) yang berat seperti perang, bukan ketika seseorang menetap pada suatu tempat. (HR. Muslim hadits no. 1404)
2.       Tidak ada istri atau budak wanita yang ikut dalam perjalanan tersebut. (HR. Bukhari no. 5116 dan Muslim no. 1404)
3.      Jangka waktu nikah mut’ah hanya 3 hari saja. (HR. Bukhari no. 5119 dan Muslim no. 1405)
4.      Keadaan para pasukan sangat darurat untuk melakukan nikah tersebut sebagaimana mendesaknya seorang muslim memakan bangkai, darah dan daging babi untuk mempertahankan hidupnya. (HR. Muslim no. 1406)
Dengan berdasarkan hadits-hadits yang mutawattir maka kebanyakan dari para sahabat dan semua Ulama’ fiqh mengharamkan nikah mut’ah tersebut. para ulama berpendapat sebagai berikut:
1.      Dari Madzhab Hanafi, Imam Syamsuddin Al-Sarkhasi (wafat 490 H) dalam kitabnya Al-Mabsuth (V/152) mengatakan: "Nikah mut'ah ini bathil menurut madzhab kami. Demikian pula Imam Ala Al Din Al-Kasani (wafat 587 H) dalam kitabnya Bada'i Al-Sana'i fi Tartib Al-Syara'i (II/272) mengatakan, "Tidak boleh nikah yang bersifat sementara, yaitu nikah mut'ah".
2.      Dari Madzhab Maliki, Imam Ibnu Rusyd (wafat 595 H) dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid wa Nihayah Al-Muqtashid (IV/325 s.d 334) mengatakan, "hadits-hadits yang mengharamkan nikah mut'ah mencapai peringkat mutawatir" Sementara itu Imam Malik bin Anas (wafat 179 H) dalam kitabnya Al-Mudawanah Al-Kubra (II/130) mengatakan, "Apabila seorang lelaki menikahi wanita dengan dibatasi waktu, maka nikahnya batil."
3.      Dari Madzhab Syafi', Imam Syafi'i (wafat 204 H) dalam kitabnya Al-Umm (V/85) mengatakan, "Nikah mut'ah yang dilarang itu adalah semua nikah yang dibatasi dengan waktu, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, seperti ucapan seorang lelaki kepada seorang perempuan, aku nikahi kamu selama satu hari, sepuluh hari atau satu bulan." Sementara itu Imam Nawawi (wafat 676 H) dalam kitabnya Al-Majmu' (XVII/356) mengatakan, "Nikah mut'ah tidak diperbolehkan, karena pernikahan itu pada dasarnya adalah suatu aqad yang bersifat mutlaq, maka tidak sah apabila dibatasi dengan waktu."
4.      Dari Madzhab Hambali, Imam Ibnu Qudamah (wafat 620 H) dalam kitabnya Al-Mughni (X/46) mengatakan, "Nikah Mut'ah ini adalah nikah yang bathil." Ibnu Qudamah juga menukil pendapat Imam Ahmad bin Hambal (wafat 242 H) yang menegaskan bahwa nikah mut'ah adalah haram.
Yang masih menjadi ikhtilaf di kalangan mereka adalah waktu pengharaman nikah mut’ah. Dari sebagian riwayat yang mengharamkannya pada perang Khaibar, ada yang sebagian pada penaklukan Mekah, ada yang sebagian pada waktu perang Tabuk, ada yang sebagian pada haji wada’, ada yang sebagian pada umrah qadha’ dan ada sebagian pada waktu tahun Authas.
Adapun golongan yang sampai saat ini yang masih mengakui dan mengamalkan pernikahan mut'ah adalah dari golongan Syiah Imamiah. Contohnya di Malaysia, sejak bangkitnya revolusi Islam tajaan Khomeini, segelintir anak-anak muda yang sedang berada di perguruan tinggi ada juga yang terjebak ke dalam perangkap mazhab ini. Tidak ketinggalan juga sebahagian kecil dari pelajar-pelajar aliran agama yang termakan ajaran sebahagian dari ustadz-ustadz mereka yang sudah bertukar ke mazhab Syiah.

C.    Dalil yang Memperbolehkan Nikah Muth’ah
Dalil yang digunakan golongan Syi’ah Imamiyah dalam membolehkan nikah muth’ah adalah ayat Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 24 yang artinya:
Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah Telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang Telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah Mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu Telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Sedangkan dalil yang bersumber dari hadits Rasulullah antara lain

§       روى الإمام مسلم فى صحيحه عن عبد الله رضي الله عنه قال: كنا نغزوا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم: ليس لنا نساء، فقلنا ألا نستحصى؟ فنهانا عن ذالك ثم رخص لنا أن ننكح المرأة الثواب إلى أجل.
§       وروى الإمام مسلم أيضا عن جابر بن عبد الله وسلمة بن الأكوع رضي الله تعالى عنهم قالا: خرج علينا منادى رسول الله فقال: إن لرسول الله قد أذن لكم أن تستمعوا، يعني متعة النساء.
§         وروى مسلم أيضا عن جابر رضي الله عنه قال: كنا نستمع بالقبضة من التمر والدقيق الأيام على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى نهى عنه عمر.
Hadits diatas menurut Jumhur ulama’ telah dinasakh oleh hadits-hadits yang datang berikutnya. Sedangkan ketentuan-ketentuan atau rukun-rukun nikah muth’ah menurut Syi’ah Imamiyah adalah:
1.      Shighat, yaitu Muth’ah dianggap sah bila menggunakan lafadz
2.      Zauj (istri), yang disyaratkan harus muslimah atau kitabiyah, disunnahkan Muslimah yang ‘Afifah dan dimakruhkan wanita pezina.
3.      Mahar, harus disebutkan dan dianggap cukup serta adanya kerelaan antara keduanya.
4.      Ajal (masa), dan ini menjadi syarat dalam akad dan ditentukan sesuai dengan kesepakatan yang jelas.
Sedangkan hukum-hukum yang berkenaan dengan Muth’ah sebagaimana yang telah ditentukan oleh Syi’ah adalah;
1.      Tidak menyebutkan mahar tapi Al-Ujr (biaya atau sewa) membatalkan akad, begitu pula menyebutkan mahar tapi tidak menyebutkan masa (al-Ajal).
2.      Anak yang dilahirkan punya hubungan nasab dengan keduanya.
3.      Tidak ada ketentuan talak dan li’an dalam Muth’ah.
4.      Tidak bisa saling mewarisi antara keduanya.
5.      Anak bisa mewarisi dan diwarasi keduanya.
6.      Iddahnya habis dengan habisnya masa yang ditentukan dengan dua kali haid, jika termasuk perempuan yang masih haid. Bila ia tidak haid maka iddahnya empat puluh lima hari.

D.    Dalil yang Mengharamkan Nikah Muth’ah
Untuk mengetahui kapan diharamkan nikah Muth’ah dalam islam, para ulama’ terjadi perbedaan pendapat. Diriwayatkan dari Ali bahwa Muth’ah diharamkan pada perang Khaibar. Sedangkan Hazim meriwayatkan pada Haji Wada’ dan dalam al-Shahih diharamkan pada Fathu Makkah. Lebih jelasnya diharamkan Muth’ah terjadi dua kali, yaitu dibolehkan sebelum perang khaibar kemudian diharamkan ketika perang khaibar. Dibolehkan kembali pada pertengahan Fathu Makkah selama tiga hari, kemudian diharamkan lagi setelah itu untuk selama-lamanya.
Nikah Muth’ah oleh seluruh imam madzhab disepakati haramnya. Kata mereka, “Jika terjadi Nikah Muth’ah itu maka hukumnya tetap batal”. Alasan mereka adalah sebagai berikut:
Pertama, pernikahan seperti ini tidak sesuai dengan pernikahan yang dimaksudkan dalam Al-Qur’an, juga tidak sesuai dengan masalah talak, nasab, iddah dan warisan. Jadi pernikahan seperti ini bathil sebagaimana bentuk pernikahan-pernikahan lain yang dibatalkan islam.
Kedua, banyak hadits dengan tegas menyebutkan haramnya. Misalnya, hadits dari Saburah al-Jahmi,
عن المغيرة بن شعبة انه خطب امراة فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم انظرت اليها ؟ قال : لا, قال انظر اليها ,فانه احري ان يؤدم بينكما اي اجدران يدوم الوفاق بينكما(رواه النسائي وابن ماجه والترمذي وحسنه)
Artinya: “Ia pernah menyertai Rasulullah dalam perang Fathu Makkah, dimana Rasulullah mengizinkan mereka nikah Muth’ah. Katanya, ia (Saburah) tidak meninggalkan nikah Muth’ah ini sampai kemudian diharamkan oleh Rasulullah”.
Dalam suatu lafadz yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Rasulullah telah mengharamkan nikah Muth’ah dengan sabdanya
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ايهاالناس اني قد كنت اذنت لكم في الاستمتاع الا وان الله قد حرمها الي يوم القيامة (رواه ابن ماجه)
Artinya: “Wahai manusia, aku telah pernah mengizinkan kamu nikah Muth’ah. Tetapi sekarang ketahuilah bahwa Allah telah mengharamkannya sampai hari kiamat”.
 Ketiga, ketika Umar menjadi khalifah dan berpidato di atas mimbar, maka beliau mengharamkannya dan para sahabat pun menyetujuinya. Padahal mereka tidak akan mau menyetujui sesuatu yang salah, seandainya mengharamkan nikah Muth’ah itu salah.
Keempat, al-Khaththabi berkata, “Haramnya nikah Muth’ah itu sudah ijma’ kecuali oleh beberapa golongan aliran Syi’ah”. Menurut kaidah mereka (golongan Syi’ah) dalam persoalan-persoalan yang diperselisihkan tidak ada dasar yang sah sebagai tempat kembali kecuali kepada Ali, padahal ada riwayat yang sah dari Ali kalau kebolehan nikah Muth’ah sudah dihapuskan. Baihaqi meriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad ketika ia ditanya orang tentang nikah Muth’ah. Jawabnya, “Sama dengan ZINA”.
Kelima, nikah Muth’ah hanya bertujuan untuk melampiaskan syahwat, bukan untuk mendapatkan anak dan memelihara anak-anak, yang keduanya merupakan tujuan utama pernikahan. Oleh karena itu, ia disamakan dengan zina dilihat dari segi tujuan yang hanya untuk bersenang-senang itu.

E.     Ketetntuan Anak Yang Dilahirkan Dalam Nikah Mut’ah
Adapun Ketentuan anak yang dilahirkan sewaktu Muth’ah belum dilarang, ulama’ banyak yang berpendapat bahwa;
1.      Anak yang dilahirkan punya intisab dengan laki-laki yang Muth’ah (al—Mustamti’).
2.       Muatamti’ wajib memberi nafkah kepada anak yang dilahirkan.
3.      Wajib Istibra’ rahim perempuan (‘Iddah) dengan dua kali masa haid.
Sementara Muth’ah yang dilakukan setelah terjadinya larangan atau diharamkan maka terjadi perbedaan di kalangan ulama’. Apakah orang yang melakukan Muth’ah harus dicambuk dan anak yang dilahirkan nasabnya bertemu dengan laki-laki yang Muth’ah. Ada yang mengatakan bahwa pelaku Muth’ah dicambuk dan yang lain mengatakan diberi Ta’zir dan dihukum. Sedang anak yang dilahirkan sebagian ulama’ ada yang mengatakan nasabnya tetap bersambung dengan ayahnya dan ketentuan-ketentuan lainnya. Dan yang lain mengatakan putus dengan ayahnya karena nikahnya tidak sah dan dihukumi seperti anak zina yang nasabnya hanya terbatas pada ibunya saja.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan pada bab sebelumnya maka pembahasan tentang Nikah Mut’ah dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.        Nikah Muth’ah adalah perkawinan yang dilakukan untuk waktu tertentu dengan memberikan sesuatu sesuai dengan kesepakatan dan berakhir sesuai waktu yang telah ditentukan tanpa adnya talak.
2.        Nikah Muth’ah pertama kali diperbolehkan, bukan pada masa dimana orang-orang islam sedang tenang di rumah atau tidak ada peperangan, melainkan pada saat itu mereka dalam peperangan yang jauh dari negrinya dan perjalanan panjang yang melelahkan.
3.        Nikah Muth’ah hukumnya haram. Sedangkan dalil yang tentang kebolehan Muth’ah dinasakh dengan dalil yang datang berikutnya.
4.         Kebolehan nikah Muth’ah pada permulaan islam karena adanya dharurat dan hanya dilakukan pada waktu perang dan perjalanan jauh.
5.        Ketentuan anak dan perempuan pada masa diperbolehkan Muth’ah seperti perkawinan yang sah.

B.     Hikmah
Adapun hikmah yang dapat di ambil dari nikah muth’ah sebagai berikut:
1.      Nikah Muth’ah hanya bertujuan melampiaskan syahwat, bukan untuk memperoleh keturunan keturunan dan memeliharanya, yang merupakan tujuan nikah sebenarnya.
2.      Muth’ah juga membahayakan perempuan karena ia ibarat sebuah benda yang dengan mudahnya berpindah dari satu tangan ke tangan lain.
3.      Muth’ah juga merugikan anak-anak karena mereka tidak mendapatkan rumah untuk tinggal dan pemeliharaan serta pendidikan yang baik.


DAFTAR  PUSTAKA

http://www.islam2u.net/index.php?option=com_content&view=article&id=315:apa-itu-nikah-mutah-dan-hukumnya&catid=20:fatwa&Itemid=65
http://pandidikan.blogspot.com/2011/02/nikah-mutah.html
http://mardiana-stai.blogspot.com/2012/06/v-behaviorurldefaultvmlo.html

Komentar