Manusia dalam Filsafat

    1.      Pengertian Manusia
Manusia secara bahasa disebut juga insan, yang dalam bahasa arabnya berasal dari kata nasiya yang berarti lupa, dan jika dilihat dari kata dasar nya yaitu “al-uns” yang berarti jinak. Kata insan dipakai untuk menyebut manusia, karena manusia memiliki sifat lupa dan jinak artinya manusia selalu menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru disekitarnya. Manusia dan cara keberadaannya yang sekaligus membedakannya secara nyata dengan mahluk yang lain. Seperti dalam kenyataannya manusia adalah mahluk yang berjalan diatas dua kaki, dan mempunyai kemampuan berfikir. Kemampuan berfikir tersebut yang menentukan akan hakekat manusia. Manusia juga memiliki karya yang dihasilkan sehingga berbeda dengan mahluk yang lain. Manusia dalam memiliki karya dapat dilihat dalam setting sejarah dan setting psikologis situasi emosional dan intelektual yang melatarbelakangi karyanya. Dari karya yang dibuat manusia tersebut menjadikan ia sebagai mahluk yang menciptakan sejarah.[1]
Manusia adalah pencipta dan pemecah problem; dari dirinya problem itu muncul dan dipecahkan. Satu problem dipecahkan, problem yang lainnya diciptakan. Dengan demikian manusia itu hidup di atas “tumpukan problem”, makin panjang umur seorang manusia dan makin tinggi status dan derajatnya maka akan makin banyak pula problem yang dihadapinya.[2]
Immanuel Kant memandang bahwa manusia adalah hasil dari rangkuman tiga pertanyaan, yaitu:
1)      Apa yang bisa kukenal atau epistemologi.
2)      Apa yang harus ke perbuat yaitu etis.
3)      Apa yang harus ku harapkan atau religius.[3]
Menurut Descrates (1596-1650), manusia adalah makhluk yang berfikir (cogito). Keraguan tentang keberadaanya dijawab dengan cogito  ergo sum, aku berpikir, maka aku ada. Manusia menemukan kepastian keberdaanya karena berpikir. Main de Biran menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk aku mau (volo), artinya makhluk yang memiliki kehendak yang ingin diwujudkan melalui tindakan. Karl max memberi pengertian tentang manusia adalah makhluk yang bekerja, dalam pekerjaan harus menjadi milik bersama. Menurut paham eksistensialisme, manusia adalah adalah makhluk yang menemukan dirinya didunia dan terarah kepada sesamanya. Manusia dapat disebut makhluk paradok, karena semua manusia termasuk dalam dunia alam sekaligus bertrandensi terhadapnya; manusia bebas dan terikat; manusia otonom dan tergantung; manusia terbatas dan tidak terbatas; manusia individu dan person; manusia duniawai dan ilahi; rohaniah dan jasmaniah; fana dan baka; semua mengandung dua kebenaran yang bertentangan. Manusia juga dapat dikatakan makhluk dinamis, membangun relasi dengan lingkungan untuk mengembangkan dirinya. Di samping itu manusia sebagai makhluk multidimensi, artinya manusia dalam satu kesatuan yang didalamnya terdapat berbagai dimensi yang saling bertentangan. Aristoteles mengatakan manusia adalah animal rationalae, yang artinya hewan yang berakal budi, kemudian pengertian itu berkembang menjadi manusia adalah animal loquens artinya makhluk yang berbicara.[4]
Nampaknya jika memikirkan tentang manusia maka yang tergambar dalam pikiran adalah berbagai macam persfektif tentang manusia, Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dipandang sebagai:
1)      Manusia sebagai makhluk alamiah, yaitu makhluk yang merupakan bagian dari alam; secara biologis hidup, tumbuh, berkembang, dan mati secara alamiah.
2)      Manusia sebagai makhluk produktif, yaitu makhluk yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan menyempurnakan dirinya. Dalam kerja manusia, manusia dicipta oleh lingkungan kerjanya menjadi tiga bagian, yaitu:
a.       Manusia yang estetik yaitu bahwa hasil kerja menjadi  sesuatu yang mengagumkan.
b.      Manusia etik yaitu bahwa dalam pekerjaan ia harus mengambil keputusan dan bertanggung jawab.
c.       Manusia religius yaitu bahwa dalam pekerjaan mereka menghayati kehidupannya.
3)      Manusia sebagai homo mensura, yaitu manusia menjadi ukuran segala yang ada sehingga ia menjadi :
a.       Makhluk epestemis yaitu makhluk yang mampu menjawab apa yang kukenal.
b.      Makhluk etis yaitu makhluk yang mampu menjawab apa yang kuperbuat.
c.       Makhluk religius yaitu makhluk yang mampu menjawab apa yang kuharapkan.
4)      Manusia sebagai makhluk partisipasi aktif, yaitu makhluk yang mampu bekerjasama dengan orang lain
5)      Manusia sebagai makhluk kontektualisasi progresif, yaitu makhluk yang mampu memecahkan masalah sesuai dengan konteknya.
6)      Manusia sebagai makhluk terpesona, yaitu makhluk yang terpesona oleh kekuatan alam dan ciptaanya sendiri.
7)      Manusia sebagai makhluk budak, yaitu makhluk yang menjadi fungsi dari hasil ciptaanya sendiri.
8)      Manusia sebagai emotional intelligence, yaitu makhluk yang memiliki kecakapan emosi yang mampu melahirkan bahasa, mitos, religi, dan seni.
9)      Manusia sebagai homo ludens, yaitu makhluk yang mampu menciptakan permainan dengan alam dan sesama manusia. Dari permainan itu dapat merusak alam dan merusak moral manusia lain.
10)  Manusia sebagai homo faber, yaitu makhluk yang mampu mencipta peralatan kerja.
11)  Manusia sebagai homo sapiens, yaitu makhluk yang mampu berfikir sehingga mampu mencipta ilmu pengetahuan dan teknologi.
12)  Manusia sebagai homo economics, yaitu makhluk yang mencintai kekayaan dan menganggap bahwa kekayaan adalah ukuran segala-galanya.
13)  Manusia sebagai homo ekology, yaitu makhluk yang  mampu bersatu dengan alam, mengolahnya, dan melestarikannya.
14)  Homo simbolicum, yaitu makhluk yang mampu mencipta simbol, makna, nilai sebagai alat komunikasi.
15)  Zoon politikon, yaitu makhluk yang mampu berpolitik, merebut, mempertahankan, dan mewariskan kekuasaan.
16)  Kesatuan jiwa dan raga, yaitu makhluk yang menganggap bahwa jiwa itu primer menurut dimensi religius dan raga itu primer menurut dimensi biologis.
17)  Manusia sebagai makhluk bingung, yaitu makhluk yang mempunyai banyak masalah yang harus dipikirkan dan dipecahkan dan tidak mengetahui mana masalah yang pokok dan yang tidak pokok.[5]

Berbicara tentang manusia, hidup, arti, dan peranan keberadaannya adalah selalu aktual. Sebab sampai sekarang ini manusia tetap menjadi sentral pembahasan dalam berbagai masalah. Peristiwa besar macam apapun yang ada didunia ini dan masalah apapun yang harus dipecahkan dibumi kita ini, pada hakikatnya harus berhubungan dengan manusia. Untuk membangun ilmu manusia, manusia harus ditempatkan pada kehidupan nyata dan kebudayaannya. Bangunan ilmu manusia dapat disajikan dalam gambar berikut ini;
[6]
 






















Dari gambar diatas, dapat dipahami bahwa dasar dari ilmu manusia adalah kehidupan nyata. Jadi, titik tolak memahami manusia adalah bahwa bukanlah manusia hasil dari interpretasi para pemikir, tetapi manusia dalam kehidupan nyata, yaitu manusia kongkrit yang dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kontek kehidupan nyata akan terungkap realitas manusia individual yang tidak dapat disamaratakan dan tidak dapat dipahami dengan dalil-dalil umum. Karena secara individual, manusia memiliki harkat dan martabat yang berbeda satu sama lain. Perbedaan ini disebabkan karena mereka hidup dalam ruang dan waktu yang berbeda. Orientasi yang demikian tidak mengacu pada manusia abstrak dan manusia yang diabtraksikan sebagai titik tolaknya, sebab manusia yang demikian itu tidak mampu menampilkan keberadaannya secara menyeluruh karena ia telah direduksi oleh kekuatan pikiran.[7]
Selanjutnya yang menjadi dasar ilmu manusia adalah kebudayaan. Kebudayaan merupakan seperangkat nilai-nilai yang menjadi landasan bersikap, berpikir dan berperilaku terhadap lingkungan dimana manusia itu lahir dan dibesarkan. Kebudayaan merupakan identitas manusia dengan kelompoknya. Melalui kebudayaan, sesuatu kelompok, suku, bangsa dapat dilihat kualitasnya dalam pengolahan benda-benda duniawi menjadi benda-benda manusiawi sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hidupnya. Oleh sebab itu kebudayaan harus dinilai dan diukur secara “otonom”, yaitu pengukuran dan penilaian menurut azas dan tujuan  yang terkandung dalam kebudayaan itu sendiri.[8] Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat menjumpai berbagai macam kebudayaan, yang berujud benda, perilaku, pengetahuan, dan tata nilai. Manusia bekerja untuk mencari nafkah; belajar untuk menuntut ilmu; menari untuk mengungkapkan kegembiraan. Bekerja, belajar, menari adalah tingkah laku manusia yang mempunyai nilai kultural yaitu gabungan nilai sosial, estetis, dan nilai etis. Ketiga bentuk itu merupakan unsur hakiki dalam kebudayaan, dimana satu  dengan lainnya saling berhubungan. Akhirnya kebudayaan dapat dipahami sebagai usaha manusia untuk menjadi manusia atau proses kemanusiaan manusia itu sendiri.
2.      Hakikat Manusia
Hakikat adalah sesuatu yang mendasar, suatu esensi, yang substansial, yang hakiki yang penting, yang diutamakan. Dengan kata lain, hakikat adalah sesuatu yang mesti ada pada sesuatu yang jika sesuatu itu tidak ada maka sesuatu itu pun tidak wujud/ada. Jadi, hakikat manusia adalah sesuatu yang pasti ada pada manusia.
Upaya pemahaman hakekat manusia sudah dilakukan sejak dahulu. Namun, hingga saat ini belum mendapat pernyataan yang benar-benar tepat dan pas, dikarenakan manusia itu sendiri yang memang unik, antara manusia satu dengan manusia lain berbeda-beda. Bahkan orang kembar identik sekalipun, mereka pasti memiliki perbedaaan. Mulai dari fisik, ideologi, pemahaman, kepentingan dan sebagainya. Semua itu menyebabkan suatu pernyataan belum tentu pas untuk di setujui oleh sebagian orang.
Setidaknya terdapat empat aliran pemikiran yang berkaitan tentang masalah rohani dan jasmani (sudut pandang unsur pembentuk manusia) yaitu: Aliran serba zat, aliran serba ruh, aliran dualisme, dan aliran eksistensialisme.
1)      Aliran Serba zat (Faham Materialisme)
Aliran serba zat ini mengatakan yang sungguh-sunguh ada itu adalah zat atau materi, alam ini adalah zat atau materi dan manusia adalah unsur dari alam, maka dari itu manusia adalah zat atau materi. Manusia ialah apa yang nampak sebagai wujudnya, terdiri atas zat (darah, daging, tulang).
Jadi, aliran ini lebih berpemahaman bahwa esensi manusia adalah lebih kepada zat atau materinya. Manusia bergerak menggunakan organ, makan dengan tangan, berjalan dengan kaki, dan lain-lain. Semua serba zat atau meteri. Berdasar aliran ini, maka dalam pendidikan manusia harus melalui proses mengalami atau pratek (psikomotor).
2)      Aliran Serba Ruh (Idealisme)
Dalam buku lain, aliran ini diberi nama Aliran Idealisme. Aliran ini berpendapat bahwa segala hakikat sesuatu yang ada di dunia ini adalah ruh, juga hakekat manusia adalah ruh. Ruh disini bisa diartikan juga sebagai jiwa, mental, juga rasio/akal. Karena itu, jasmani atau tubuh (materi, zat) merupakan alat jiwa untuk melaksanakan tujuan, keinginan dan dorongan jiwa (rohani, spirit, ratio) manusia.
Jadi, aliran ini beranggapan bahwa yang menggerakkan tubuh itu adalah ruh atau jiwa. Tanpa ruh atau jiwa maka jasmani, raga atau fisik manusia akan mati, sia-sia dan tidak berdaya sama sekali. Dalam pendidikan, maka tidak hanya aspek pengalaman saja yang diutamakan, faktor dalam seperti potensi bawaan (intelegensi, rasio, kemauan dan perasaan) memerlukan perhatian juga.
3)      Aliran Dualisme
Aliran ini menganggap bahwa manusia itu pada hakekatnya terdiri dari dua substansi, yaitu jasmani dan rohani. Aliran ini melihat realita semesta sebagai sintesa kedua kategori animate dan inanimate, makhluk hidup dan benda mati. Demikian pula manusia merupakan kesatuan rohani dan jasmani, jiwa dan raga.  Misalnya ada persoalan: dimana letaknya mind (jiwa, rasio) dalam pribadi manusia. Mungkin jawaban umum akan menyatakan bahwa ratio itu terletak pada otak. Akan tetapi  akan timbul problem, bagaiman mungkin suatu immaterial entity (sesuatu yang non-meterial) yang tiada membutuhkan ruang, dapat ditempatkan pada suatu materi (tubuh jasmani) yang berada pada ruang wadah tertentu.
Jadi, aliran ini meyakini bahwa sesungguhnya manusia tidak dapat dipisahkan antara zat/raga dan ruh/jiwa. Karena pada hakekatnya keduanya tidak dapat dipisahkan. Masing-masing memiliki peranan yang sama-sama sangat vital. Jiwa tanpa ruh ia akan mati, ruh tanpa jiwa ia tidak dapat berbuat apa-apa. Dalam pendidikan pun, harus memaksimalkan kedua unsur ini, tidak hanya salah satu saja karena keduanya sangat penting.
4)      Aliran Eksistensialisme
Aliran filsafat modern berpikir tentang hakekat manusia merupakan eksistensi atau perwujudan sesungguhnya dari manusia. Jadi intinya hakikat manusia itu yaitu apa yang menguasai manusia secara menyeluruh. Disini manusia dipandang dari serba zat, serba ruh atau dualisme dari kedua aliran itu, tetapi memandangnya dari segi eksistensi manusia itu sendiri di dunia.
Dari segi antropologi terdapat tiga sudut pandang hakekat manusia, yaitu manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial dan makhluk susila. Berikut penjelasan dari ketiganya:
1)      Manusia Sebagai Makhluk Individu (Individual Being)
Dalam bahasa filsafat dinyatakan self-existence adalah sumber pengertian manusia akan segala sesuatu. Self-existence ini mencakup pengertian yang amat luas, terutama meliputi: kesadaran adanya diri diantara semua relita, self-respect, self-narcisme, egoisme, martabat kepribadian, perbedaan dan persamaan dengan pribadi lain, khususnya kesadaran akan potensi-potensi pribadi yang menjadi dasar bagi self-realisasi. Manusia sabagai individu memiliki hak asasi sebagai kodrat alami atau sebagi anugrah Tuhan kepadanya. Hak asasi manusia sebagai pribadi itu terutama hak hidup, hak kemerdekaan dan hak milik.
Disadari atau tidak menusia sering memperlihatkan dirinya sebagai makhluk individu, seperti ketika mereka memaksakan kehendaknya (egoisme), memecahkan masalahnya sendiri, percaya diri, dan lain-lain. Menjadi seorang individu manusia mempunyai ciri khasnya masing-masing. Antara manusia satu dengan yang lain berbeda-beda, bahkan orang yang kembar sekalipun, karena tidak ada manusia di dunia ini yang benar-benar sama persis. Fisik boleh sama, tetapi kepribadian tidak.
Jadi dalam pendidikan seorang guru sangat perlu memahami hakekat manusia sebagai individu. Itu kaitanya dengan menghargai perbedaan dalam setiap anak didiknya, agar sang guru tidak semena-mena dan memaksakan kehendaknya (diskriminasi) kepada peserta didik. Perbedaan itu bisa berupa fisik, intelejensi, sikap, kepribadian, agama, dan lain-lain.
2)      Manusia Sebagai Makhluk Sosial (Sosial Being)
Telah kita ketahui bersama bahwa manusia tidak dapat hidup sendirian, manusia membutuhkan manusia lain agar bisa tetap exsis dalam menjalani kehidupan ini, itu sebabnya manusia juga dikenal dengan istilah makhluk sosial. Keberadaanya tergantung oleh manusia lain.
Esensi manusia sebagai makhluk sosial ialah adanya kesadaran manusia tentang status dan posisi dirinya dalam kehidupan bersama dan bagaimana tanggung jawab dan kewajibannya di dalam kebersamaan itu. Adanya kesadaran interdependensi dan saling membutuhkan serta dorongan-dorongan untuk mengabdi sesamanya adalah asas sosialitas itu. Kehidupan individu di dalam antar hubungan sosial memang tidak usah kehilangan identitasnya. Sebab, kehidupan sosial adalah realita sama rielnya dengan kehidupan individu itu sendiri. Individualitas itu dalam perkembangan selanjutnya akan mencapai kesadaran sosialitas. Tiap manusia akan sadar akan kebutuhan hidup bersama segera setelah masa kanak-kanak yang egosentris berakhir.
Seorang guru dalam kegiatan pembelajaran perlu menanamkan kerjasama kepada peserta didiknya, agar kesadaran sosial itu dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Hal tersebut dapat dicapai dengan penerapan strategi dan metode yang tepat, juga dengan pemberian motivasi tentang kebersamaan.
3)      Manusia Sebagai Makhluk Susila (Moral Being)
Asas pandangan bahwa manusia sebagai makhluk susila bersumber pada kepercayaan bahwa budi nurani manusia secara apriori adalah sadar nilai dan pengabdi norma-norma. Kesadaran susila (sense of morality) tak dapat dipisahkan dengan realitas sosial, sebab, justru adanya nilai-nilai, efektivitas nilai-nilai, berfungsinya nilai-nilai hanyalah di dalam kehidupan sosial. Artinya, kesusilaan atau moralitas adalah fungsi sosial. Asas kesadaran nilai, asas moralitas adalah dasar fundamental yanng membedakan manusia dari pada hidup makhluk-makhluk alamiah yang lain. Rasio dan budi nurani menjadi dasar adanya kesadaran moral itu.
Ketiga esensi diatas merupakan satu kesatuan yang tidak terlepaskan dari diri manusia, tinggal ia sadar atau tidak. Beberapa individu mempunyai kecenderungan terhadap salah satu esensi itu. Ada yang cenderung esensi pertama yang lebih menonjol, ada yang kedua dan ada yang ketiga. Semua tergantung pemahaman dan pendidikan yang dialami oleh si individu tersebut. Fungsi pendidikan adalah mengembangkan ketiganya secara seimbang. Agar manusia dapat menempatkan diri sesuai situasi dan kondisi yang sedang dialami. Sesuatu yang berlebihan atau malah kurang itu tidak baik, jadi yang terbaik itu adalah seimbang. Masalah manusia adalah terpenting dari semua masalah. Hakekat manusia selalu berkaitan dengan unsur pokok yang membentuknya. Manusia secara individu tidak pernah menciptakan dirinya, akan tetapi bukan berarti bahwa ia tidak dapat menentukan jalan hidup setelah kelahirannya dan eksistensinya dalam kehidupan dunia ini untuk mencapai kedewasaan dan semua kenyataan itu, akan memberikan andil atas jawaban mengenai pertanyaan hakekat, kedudukan, dan perannya dalam kehidupan yang ia hadapi.[9]

3.      Kedudukan dan peran manusia
Manusia sebagai mahluk yang berdimensional memiliki peran dan kedudukan yang sangat mulia. Manusia memiliki eksistensi dalam hidupnya sebagai abdullah, an-nas, al insan, al basyar dan khalifah. Kedudukan dan peran manusia adalah memerankan ia dalam kelima eksistensi tersebut. Misalkan sebagai khalifah dimuka bumi sebagai pengganti Tuhan manusia disini harus bersentuhan dengan sejarah dan membuat sejarah dengan mengembangkan esensi ingin tahu menjadikan ia bersifat kreatif dan dengan di semangati nilai-nilai trasendensi. Manusia dengan Tuhan memiliki kedudukan sebagai hamba, yang memiliki inspirasi nilai-nilai ke-Tuhan-an yang tertanam sebagai penganti Tuhan dalam muka bumi. Manusia dengan manusia yang lain memiliki korelasi yang seimbang dan saling berkerjasama dalam rangka memakmurkan bumi. Manusia dengan alam sekitar merupakan sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan rasa syukur kita terhadap Tuhan dan bertugas menjadikan alam sebagai subjek dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan. Setiap apa yang dilakukan oleh manusia dalam pelaksana pengganti Tuhan sesuai dengan maqasid asy-syari’ah. Maqasid asy-syari’ah merupakan tujuan utama diciptanya sebuah hukum atau mungkin nilai-esensi dari hukum, dimana harus menjaga agama, jiwa, keturunan, harta, akal dan, ekologi. Manusia yang memegang amanah sebagai khalifah dalam melakukan keputusan dan tindakannya sesuai dengan maqasid asy-syari’ah.[10]


[2]Darsono Prawironegoro, Filsafat Ilmu, (Kajian tentang Pengetahuan yang Disusun Secara Sistematis dan Sistemik dalam Membangun Ilmu Pengetahuan), (Jakarta: Nusantara Consulting, 2010), h. 176
[3]Ibid., h. 183
[4]Ibid., h. 178-179
[5]Ibid., h. 179-181
[6] Ibid., h. 175-176
[7]Ibid., h. 181
[8]Ibid., h. 187

Komentar