Filsafat Neoplatonisme

            Neoplatonisme dibangun oleh Plotinus (204-70 SM) yang merupakan filosof besar fase terakhir Yunani. Neoplatonisme merupakan rangkaian terakhir dari fase Helenisme Romawi, yaitu suatu fase pengulangan ajaran Yunani yang lama, jadi aliran ini masih berkisar pada filsafat Yunani, yang teramu dalam mistik (tasawuf Timur), dan juga digabung dengan berbagai aliran lain yang mendukung. Akibatnya, di dalamnya kadang terjadi tabrakan antara filsafat Yunani dengan agama-agama samawi. Neoplatonisme ini terdapat unsur-unsur Platonisme, Phytagoras, Aristoteles, Stoa, dan mistik Timur, jadi, berpadu antara unsur-unsur kemanusiaan, keagamaan dan mistik.
Aliran yang berupaya menggabungkan ajaran Plato dan Aristoteles dikenal dengan sebutan neoplatonisme, yang merupakan puncak terakhir dalam sejarah filsafat Yunani. Aliran ini bermaksud menghidupkan kembali filsafat Plato, yang berpengaruh pada aliran ini adalah Ammonius Saccas. Saccas adalah filsuf yang mengajar di Alexandria, Mesir, pada paro pertama abad ketiga.
Tokoh neoplatonisme yang dianggap representatif ialah Plotinus, murid Ammonius Saccas. Plotinus lahir di Lycopolis, Mesir, pada tahun 205 dan meninggal di Campania pada tahun 270 M. Plotinus yang berupaya memadukan ajaran Aristoteles dan Plato, hanya saja pada praktiknya, ia lebih condong pada ajaran-ajaran Plato.,sehingga filosofinya dinamakan neoplatonisme.
Plotinus menyesuaikan filsafat Plato dalam cara-cara yang penting dan karyanya diterbitkan oleh muruidnya Porphyry (±232-305). Filsafat ini kemudian dikenal sebagai neoplatonisme, plotinus percaya bahwa ciptaan melimpah (atau mengalir) dari Yang Esa yang adalah Yang Baik, segala sesuatu yang ada pasti baik, atau memuat kebaikan, kalau tidak ia tidak dapat ada sama sekali.
Seluruh sistem filsafat Plotinus berkisar pada konsep kesatuan, yang disebutnya dengan nama “Yang Esa”, dan semua yang ada berhasrat untuk kembali kepada “Yang Esa”. Oleh karenanya, dalam realitas seluruhnya terdapat gerakan dua arah: dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas yaitu:
  1. Dialektika menurun (a way down)
Dialektika menurun digunakan untuk menjelaskan “Wujud Tertinggi” dan cara keluarnya dari-Nya. Penjelasannya terhadap Wujud tertinggi itu, Plotinus terkenal dengan teorinya “Yang Esa”, yaitu keluarnya alam dari “Yang Esa”, ia sampai kepada kesimpulan bahwa semua yang wujud, termasuk di dalamnya wujud pertama (Yang Esa), merupakan rangkaian mata rantai yang kuat dan erat, dan kemudian dalam studi keagamaan dikenal dengan istilah “kesatuan wujud”. Plotinus sangat mementingkan kesatuan. Semua makhluk yang ada, bersama-sama merupakan keseluruhan yang tersusun sebagai suatu hirarki.  Proses pengeluaran digambarkan Plotinus sebagai berikut: dari “Yang Esa” dikeluarkan Akal (Nous). Akal ini sama dengan ide-ide Plato yang dianggap Plotinus sebagai suatu intelek yang memikirkan dirinya sendiri. Jadi, akal sudah tidak satu lagi, karena di sini terdapat dualitas: pemikiran dan apa yang dipikirkan. Dari akal itu, jiwa (psykhe) berasal, dan akhirnya dari jiwa dikeluarkan materi (hyle), yang bersama jiwa merupakan jagad raya.
  1. Dialektika menaik (a way up)
Dialektika menaik digunakan untuk menjelaskan soal-soal akhlak dan jiwa, dengan maksud untuk menentukan kebahagiaan manusia. tiap taraf hirarki mempunyai tujuan untuk kembali kepada taraf lebih tinggi yang paling dekat dan kerena itu secara tidak langsung menuju ke “Yang Esa”. Hal ini dapat dicapai melalui tiga langkah. Langkah pertama adalah penyucian, di mana manusia melepaskan diri dari materi dengan laku tapa. Langkah kedua adalah penerangan, dimana ia diterangi dengan pengetahuan tentang Idea-idea akal budi. Akhirnya, langkah ketiga adalah penyatuan dengan “Yang Esa” yang melebihi segala pengetahuan. Langkah terakhir ini ditunjukkan Plotinus dengan nama “ekstase” (ecstacy).

Dua dialektika itu, oleh Plotinus dikembangkan teori tentang asal-usul alam semesta yang tampaknya juga merupakan gabungan dari teori-teori Plato dan Aristoteles, yang kemudian dikenal sebagai sistem emanasi.
Jika ajaran Plato berpangkal pada “Yang Baik”, yang meliputi segala-galanya, maka ajaran Plotinus berpangkal pada “Yang Esa”. Menurut Plotinus, “Yang Esa” itulah pangkal dari segala-galanya.
Tahap-Tahap Wujud
Salah satu persoalan dasar paling pokok dalam ajaran neoplatonisme adalah bagaimana mendamaikan dua macam hal, yakni “Yang Esa” dan segala macam wujud yang fana, sementara mereka sama-sama tidak mempunyai apa pun yang serupa antara yang satu dengan yang lainnya. Untuk itu model emanasi, dirancang untuk menjelaskan bagaimana segala sesuatu yang tidak memiliki unsur kesamaan antara satu dengan yang lain, pada saat yang sama, juga benar-benar saling berhubungan. Dengan teori emanasi itulah, akhirnya terdapat apa yang disebut unity of being, kesatuan wujud.
Plotinus juga mencoba menyempurnakan ajaran keterhubungan antara dua wujud tersebut, ia menggunakan pokok pikiran bahwa di antara semua wujud ini, ada wujud tertinggi, yang disebut “Yang Esa” atau “Wujud Tertinggi”, dan ada pula wujud yang terendah, yaitu alam materi. Sementara di antara kedua wujud tersebut, terdapat wujud-wujud yang lain. Menurut Plotinus, wujud keseluruhannya ada empat, yaitu:
  1. Yang Esa (to hen)
  2. Akal (nous)
  3. Jiwa (psykhe)
  4. Materi (hyle)
  5. Yang Esa (To Hen)
Menurut filosofi Plotinus, alam semesta bukanlah ciptaan “Yang Esa”, melainkan limpahan dari “Yang Esa” melalui proses emanasi-emanasi. Tujuan akhir dari semua wujud adalah terserap kembali ke dalam “Yang Esa”, tempat asalnya. Sifat “Yang Esa” adalah di luar jangkauan pemahaman manusia.
Selain persoalan teologis dan kosmologis, Plotinus juga mengembangkan ajaran tentang etika. Ajaran Plotinus terfokus dalam tiga kajian inti, yakni “Yang Esa” (The One), akal (intellect), dan jiwa (soul).
Kedudukan akal di antara semua wujud ialah sebagai pembuat alam (shani’ al-alam). Akal ini juga mengandung ide-ide dari Plato. Menurut plotinus, kalau alam abstrak, yaitu alam itu tidak terdapat di dalam akal, maka akal tidak mempunyai hakikat, tetapi hanya gambaran dari hakikat. Dan ini suatu tanda ketidaksempurnaan, sedangkan seharusnya akal ini sempurna. Dengan jalan menjadi “Yang Esa”, sama dengan idea of God dari Plato, maka Plotinus telah mengambil ide Plato seluruhnya, dan dipakainya untuk menafsirkan wujud pertama dan urut-urutan wujud lainnnya.
Adanya tingkatan-tingkatan wujud ini menyebabkan Plotinus mengatakan adanya dua macam jiwa, yaitu:
  1. Jiwa yang tidak berhubungan langsung dengan alam indrawi, yaitu jiwa yang dekat dengan akal.
  2. Jiwa yang merupakan wakil jiwa Yang Esa, yang menjadikan alam indrawi dan disebut tabiat alam ini.
Plotinus menganggap ada materi lain yang terdapat di dalam alam abstrak, sedangkan alam lahir ini merupakan cermin (gambaran) dari alam abstrak. Maka, yang akhir ini pun materi pula, hanya saja materi terakhir ini tidak mengandung keburukan dan ketidakhakikatan, seperti yang terdapat dalam alam lahir. Pikiran Plotinus ini juga tidak terlepas dari Plato yang mengatakan bahwa alam lahir ini adalah gambaran (salinan) dari alam logos atau dari alam nonmateri.
Kritik terhadap Neoplatonisme
Pada abad ke-9, Abu Haran a Ash’ari, seorang teolog Irak, menjelaskan argumen bahwa alam semesta ini diatur oleh pengaturan langsung oleh Penyebab Awal atau Tuhan, seluruh kejadian-kejadian - dari yang paling kecil hingga yang paling besar - adalah menurut penciptaan-Nya, sepanjang waktu, Tuhan berada dalam kesibukan-Nya.
Pendapat ini juga didukung oleh filsuf Irak abad ke-11 lain yang terkenal, Abu Hamid Muhammad ibnu Muhammad al Ghazali. Dalam bukunya, Tahaafut al Falaasifah, yang dalam terjemahan Inggris berjudul The Inconherence of the Philosophers, Al Ghazali menyampaikan kritik pada filsafat Neoplatonisme yang mempengaruhi pemikiran Timur Tengah lainnya, seperti Al-Farabi dan Ibn Sina. Untuk menjawab pendapat para filsuf bahwa kejadian alam semesta ini akibat perbuatan ciptaan-Nya (termasuk hukum-hukumnya), Al-Ghazali menyatakan bahwa hal yang tampak sebagai kejadian yang teratur secara sebab-akibat sebenarnya tidak lepas dari perbuatan Tuhan secara terus-menerus. Jadi, tidak ada kejadian yang bebas (independent) dari perbuatan Tuhan. Posisi Tuhan tetap transeden, dengan kehendak yang dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kehendak-Nya dan kehendak-Nya pasti terjadi, seperti yang terjadi pada kejadian yang dilami oleh para Nabi (mukjizat).

Komentar