Filsafat Manusia

Filsafat manusia adalah cabang ilmu filsafat yang mencoba menjelaskan apakah sesungguhnya manusia itu. Di masa lampau, cabang ilmu ini sering disebut sebagai "psikologi filosofis" atau "psikologi rasional".[1]
Filsafat manusia adalah suatu cabang dari filsafat yang mengupas tentang arti menjadi manusia. Filsafat manusia mempunyai kedudukan yang sama dengan cabang-cabang filsafat lainnya, seperti etika, epistemology, kosmologi, dan filsafat politik. Akan tetapi filsafat manusia juga memiliki keduduan yang istimewa, karena semua persoalan filsafat itu berawal dan berakhir tentang pertanyaan mengenai esensi dari manusia, yang merupakan tema utama refleksi filsafat manusia. Mirip dengan psikologi, sosiologi, dan antropolgi, filsafat manusia juga ingin memahami manusia dan gejala-gejalanya. Yang menjadi kajian dari filsafat manusia ini adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia, sejauh bisa dipikirkan secara rasional.[2]

1.      Ciri Filsafat Manusia
Ciri utama filsafat manusia adalah pendekatannya yang sekaligus meluas dan mendalam didalam memahami manusia. Makna dari meluas dan mendalam adalah sebgaai berikut:
1)      Disebut meluas, karena filsafat manusi ahendak memahami semua dimensi manusia dari sisinya yang paling mendasar, seperti manusia sebagai makhluk yang memiliki motivasi, kesadaran, kebebasan, agresi, dan sebagainya.
2)      Disebut mendalam, karena filsafat hendak mencari inti, akar, atau struktur dasar yang melandasi seluruh realitas manusia, baik yang ada didalam kehidupan sehari-hari, ataupun yang ada didalam data-data ilmiah.[3]

2.      Manfaat Mempelajari Filsafat Manusia
Filsafat manusia menawarkan suatu bentuk pengetahuan yang luas, dalam, dan kritis tentang keseluruhan manusia. Pengetahuan semacam itu sekaligus memiliki manfaat teoritis dan praktis. Secara praktis manusia mampu membantu kita membuat keputusan-keputusan praktis didalam kehidupan sehari-hari dengan berbekal pengetahuan yang kita miliki tentang diri kita sendiri. Filsafat manusia juga dapat membantu memberikan makna pada pada apa yang tengah kita alami, menentukan tujuan hidup, dan sebagainya. Secara teoritis, filsafat manusia dapat membantu kita meninjau secara kritis asumsi-asumsi yang tersembunyi didalam teori-teori tentang manusia ang terdapat didalam ilmu pengetahuan. Filsafat manusia, pada akhirnya dapat membuat kita semakin menyadari, betapa manusia adalah makhluk yang sangat rumit. Manusia adalah suatu enigma yang tak mungkin sepenuhnya bisa dipahami, bahkan oleh dirinya sendiri.[4]
 Selain manfaat diatas, ada beberapa lagi manfaat dari filsafat manusia, yaitu:
1.      Mengetahui apa dan siapa manusia secara menyeluruh.
2.      Mencari jawaban siapa sesungguhnya manusia.
3.      Memahami kompleksitas manusia.
4.      Memahami diri dalam konsep menyeluruh yang pada gilirannyamemudahkan menjalani kehidupan, dan mengambil makna dari setiap peristiwa yang terjadi.[5]

3.      Metode Filsafat Manusia
Filsafat manusia tidak mau memberikan fakta-fakta buru tentang manusia, melainkan berusaha mencari pengetahuan yang lebih mendalam dari data-data yang telah banyak diketahui sebelumnya. Oleh karena itu itu filsafat mempunyai beberapa metode, yaitu:
1)      Metode Sintesis.
Yaitu mensintesiskanpengalaman dan pengetahuan kedalam satu visi.
2)      Metode Refleksif.
Yaitu melihat diri sendiri dan melakukan olah pikir untuk mendapatkan pengetahuan tentang dirinya.
3)      Metode Dialektis.
Yaitu melalui proses pengajuan jawaban dan pertanyaan yang kemudian intensitas dan tingkat refleksinya terus berkembang.[6]

Komentar