Pola Kepemimpinan Khalifah Rasyidiyah dan Khalifah Bani Umayyah




Perbandingan pola kepemimpinan Khalifah Rasyidah dengan Khalifah Dinasti Umayyah sebagai berikut:
  1. Sistem pemerintahan Khalifah Rasyidah berdasarkan al-Qur’an, hadis, dan Ijma’, sedangkan Dinasti Umayyah berdasarkan perintah khalifah dan harus dipatuhi. 
  2. Khalifah Rasyidah menganggap diri mereka sebagai pelayan masyarakat, sedangkan para Khalifah Dinasti Umayyah menganggap diri mereka sebagai penguasa. 
  3. Kepemimpinan Khalifah Rasyidiah bisa bertahan karena dukungan rakyat, sedangkan kepemimpinan Dinasti Umayyah bisa bertahan karena kekuatan.
  4. Pada masa Khalifah Rasyidah tidak ada suku yang berkuasa terus menerus, sedangkan masa Dinasti Umayyah hanya merekalah yang berkuasa. 
  5. Khalifah Rasyidah memberi rakyat hak berbicara dan dapat langsung menghadap khalifah, sedangkan Dinasti Umayyah menekan hak rakyat berbicara dan jika ingin menghadap haruslah lewat Hajib sebagai perantara. 
  6. Khalifah Rasyidah menjalankan sistem demokrasi, sedangkan masa Dinasti Umayyah suara rakyat tak dihiraukan. 
  7. Khalifah Rasyidah tidak memiliki hak atas bait al-mal, sedangkan Dinasti Umayyah menjadikan bait al-mal milik mereka.
  8. Khalifah Rasyidah mampu mengurangi pengaruh jahiliyah, sedangkan masa Dinasti Umayyah bertambah. 
  9. Khalifah Rasyidah hidup sederhana seperti orang biasa, sedangkan khalifah Dinasti Umayyah hidup dengan kemewahan. 
  10. Khalifah Rasyidah merangkap juga sebagai ahli hukum, agama, dan sangat menghargai alim ulama, sedangkan Dinasti Umayyah mengistirahatkan para ulama dari dunia politik. 
  11. Dalam memerintah, khalifah Rasyidah bergerak tentang urusan agama namun dibatasi oleh syari’ah, sedangkan Khalifah Dinasti Umayyah memerintah seenaknya. 
  12. Para Khalihaf Rasyidah Majlis Syura’ diatas khalifah dan keluarga, sedangkan dimasa Bani Umayyah anggota syura’ diangkat dari dan oleh keluarga dan kaum kerabat khalifah. 
 Dikutip dari Prof. Dr. M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: Bagaskara, cet. IV, 2012 halaman 141 -142

Komentar