Pengertian Sikap



Secara umum sikap  dipandang sebagai seperangkat reaksi-reaksi afektif terhadap obyek tertentu berdasarkan hasil penalaran, pemahaman, dan penghayatan individu. Dengan demikian sikap terbentuk dari hasil belajar dan pengalaman seseorang dan bukan sebagai pengaruh bawaan (faktor intern) seseorang, serta tergantung kepada obyek tertentu.
Menurut Prof. Dr. Ma’rat, ada sebelas rumusan umum mengenai sikap. Rumusan umum tersebut adalah bahwa:
1.      Sikap merupakan hasil belajar yang diperoleh melalui pengalaman dan interaksi yang terus-menerus dengan lingkungan (attitudes are learned).
2.      Sikap selalu dihubungkan dengan obyek seperti manusia, wawasan, peristiwa, ataupun ide (attitudes have referent).
3.      Sikap diperoleh dalam berinteraksi dengan manusia lain baik dirumah, sekolah, tempat ibadah, ataupun tempat lainnya melalui nasehat, teladan , atau percakapan (attitudes have readiness to learnings).
4.      Sikap sebagai wujud dari kesepian untuk bertindak dengan cara-cara tertentu terhadap obyek (attitudes have readiness to respond).
5.      Bagian yang dominan dari sikap adalah perasaan dan afektif seperti yang tampak dalam menentukan pilihan apakah positif, negatif, atau ragu (attitudes are affective).
6.      Sikap memiliki tingkat intensitas terhadap obyek tertentu yakni kuat atau lemah Iattitudes are very intensive).
7.      Sikap bergantung kepada situasi dan waktu, sehingga dalam situasi dan saat tertentu mungkin sesuai sedangkan disaat dan situasi yang berbeda belum tentu cocok (attitudes have a time dimension).
8.      Sikap dapat bersifat relatif consistent  dalam sejarah hidup individu (attitudes have duration factor).
9.      Sikap merupakan bagian dari konteks persepsi ataupu kognisi individu (attitudes are complex).
10.  Sikap merupakan penilaian terhadap sesuatu yang mungkin mempunyai konsekuensi tertentu bagi seseorang atau yang bersangkutan (attitudes are evaluations).
11.  Sikap merupakan penafsiran dan tingkah laku yang mungkin menjadi indikator yang sempurna, atau bahkan tidak memadai (attitudes are inferred).
Rumusan tersebut diatas menunjukkan bahwa sikap merupakan predisposisi untuk bertindak senang atau tidak senang terhadap obyek tertentu yang mencakup komponen kognesi, afeksi, dan konasi. Dengan demikan sikap merupakan interaksi dari komponen-komponen tersebut secara kompleks.


Sumber : Jalaludin, Psikologi Agama, (Jakarta utara: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), h. 187-189

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AL-QOWAIDUL KHAMSAH

SUMBER HUKUM ISLAM YANG MUTTAFAQ DAN MUKHTALAF

JINAYAH DAN HIKMAHNYA